Life Cycle

Menuju Jakarta yang Bermoral; Sebuah Harapan dan Kenyataan

Seperti apakah kehidupan malam di Jakarta? Kami sebenarnya belum pernah secara langsung menjejaki hal ini. Dalam kesempatan kali ini, kami mencoba untuk melihat secara dekat kenyataan yang selama ini tertulis di dalam buku-buku. Kesempatan yang sangat jarang bisa kami dapatkan untuk eksplor lebih jauh mengenai hal ini.

Kami memilih kawasan Jakarta Kota dan Kota Tua untuk dikunjungi malam itu, terlihat kemegahan yang redup dari hingar bingar kota metropolitan. Gedung-gedung besar nan kumuh terlihat begitu kusam menghiasi wajah ibukota di malam hari, di emperan-emperan yang sudah bukan hal asing lagi di kota ini, menjadi kasur ’empuk’ bagi sebagian orang yang berkesempatan untuk mencicipinya setiap malam. Di sisi lain, di tempat yang tidak begitu jauh dari kasur mereka, berdiri diskotik-diskotik dan hiburan malam kelas kakap menyediakan berbagai macam arena pergulatan hawa nafsu dan kemegahan duniawi. Terlihat jejeran mobil mewah, semerbaknya wangi parfum, baju dan gaun pesta, semuanya begitu kontras dengan apa yang terlihat sebelumnya.

Dalam perjalanan malam kali ini perhatian kami adalah kehidupan prostitusi di Jakarta pada malam hari baik itu legal maupun ilegal. Kami mulai menapaki jalan-jalan kota yang begitu sepi malam itu, dimana hanya ada 1 atau 2 mobil yang lalu lalang melewati kami. Perhatian kami tertuju pada sebuah klub/diskotik yang begitu besar dan berkelas, kami bisa menyebutnya seperti itu karena kami melihat pengunjung yang mendatangi tempat itu rata-rata menggunakan mobil mewah dengan setelan baju yang mewah pula. Dari penampilan fisik diskotik itu mengisyaratkan bahwa hanya para borju saja yang bisa masuk dan menikmati acara yang telah disediakan.

Sebuah mobil sedan mewah melewati kami dan menuju ke tempat tersebut, terlihat dari penumpang yang turun dari mobil itu mengenakan gaun malam agak tembus pandang, dengan sepatu hak tinggi, syal yang melilit di lehernya menandakan ia salah seorang member dari acara yang sedang diadakan karena semua pengunjung terlihat mengenakan syal. Kami tidak tahu acara apa di dalam sana, namun dari segi cara berpakaiannya kami menduga acara itu adalah acara dansa dilapisi hura-hura para maniak dugem. Mungkin pernyataan ini lebih memperlihatkan kesinisan dari kami yang masih polos.

Saya teringat sebuah lagu dari Java Jive. Dalam lagunya yang berjudul gadis malam yang saat itu terus saya dendangkan dengan pelan. Liriknya seperti ini:

Hasratku bicara, Sudut yang ada

Di hening malam, Jadi satu saksi

Haramnya transaksi

Deru nafas memacu, Di dalam ruang

Seiring hasrat manusia, oh…

Gelap melanda jiwa , Dan mereka terlena

Oh begitu cepat dosa itu terbuat

Saya rasa begitu tepat lagu itu menggambarkan bagaimana keadaan para gadis masa kini yang mencari kehidupan atau kesenangannya di malam hari di bawah sorotan lampu dan lagu diskotik. Setahu saya memang tidak semua gadis malam menjadi pemuja seks karena tuntutan keadaan ekonomi karena ada juga dari sebagian mereka yang hanya mencari kesenangan semata.

Tidak begitu lama kami melihat-lihat diskotik tadi, kami melanjutkan perjalanan malam kami ke tempat yang lebih ramai dari sebelumnya. Kami menemukan lagi sebuah diskotik yang serupa namun kali ini kami pikir levelnya masih satu atau dua di bawah yang sebelumnya. Saya memberanikan diri untuk mendekat dan bertanya kepada tukang otak-otak ikan yang sedang berjualan tepat di samping diskotik tersbut. Setelah sedikit beramah tamah dan berbasa-basi, saya memberanikan diri bertanya kepada penjual otak-otak ikan tentang diskotik itu, ia hanya menjawab bahwa isinya tidak jauh berbeda, hanya joged, pesta dan hal-hal biasa yang terjadi pada setiap diskotik, ia tidak tahu apa ada kegiatan prostitusi atau tidak walaupun ia tahu bahwa wanita-wanita yang sering keluar masuk ke diskotik itu adalah kupu-kupu malam. Saya semakin penasaran, akhirnya dengan cukup nekat saya melongok ke arah dalam. Diskotik itu ditutup oleh dua pintu, pintu kaca dari luar dan pintu kayu yang rapat di dalam, sehingga saya hanya bisa melihat di bagian luar dari diskotik itu saja, tidak bisa melihat lebih jauh lagi. Terlihat di salah satu temboknya terpampang wanit-wanita berpose dan berpakaian ’menantang’ lengkap dengan jadwal dan nama mereka. Terlihat bahwa di atasnya terpampang judul ”SEXY DANCER”, dan di sana terlihat seperti sebuah chart atau peringkat penari yang utama dan penari untuk kelas ’reguler’.

Saya hanya mengerutkan dahi sedikit. Karena jujur baru kali ini saya melihat langsung dengan mata kepala saya sendiri bahwa kehidupan malam yang biasanya hanya saya lihat di TV kini saya lihat dengan begitu jelas. Kami berjalan kembali ke arah Lokasari yang menurut pengakuan pedagang tadi bahwa tempat itu pun menjadi lokalisasi prostitusi kelas menengah. Dengan cukup bersemangat kami berjalan ke arah yang ia tunjukukkan. Tidak lama kemudian, baru sekitar 20 meter dari gapura, kami bertemu dengan seorang wanita penghibur yang sepertinya sedang berjalan menuju ke diskotik tadi. Dari segi pakainannya, kali ini ia lebih ’berani’ dari wanita yang kami lihat di diskotik pertama, dengan bermodalkan celana pendek ketat, baju tank top dengan pusar yang terlihat, dengan santainya ia melewati kami meninggalkan bau minyak wangi yang begitu tajam. Kami tidak sempat ngobrol atau sekedar bertanya karena ia berjalan cepat menuju tempat ’kerjanya’.

Penasaran dengan apa yang kami lihat tadi, kami berupaya untuk mencari lagi wanita seperti tadi dengan harapan bisa diwawancarai, namun setelah berputar-putar selama beberapa lama kami tidak menemukan apa yang kami inginkan. Saya pun berinisiatif untuk bertanya ke salah seorang warga sekitar yang sedang berjualan. Saya bertanya apakah di daerah tersebut memang menjadi tempat prostitusi, dan kehidupan malam yang biasa terjadi setiap hari. Ia menjawab bahwa hal-hal tadi sudah biasa bagi warga sekitar, bukanlah hal yang tabu apalagi hal yang begitu menggemparkan, bahkan dengan enak dan santainya ia memberitahu kos-kosan tempat para wanita penghibur malam itu biasa berada di siang hari. Ketika saya tanya kembali apakah sebenarnya warga resah dengan hal-hal berbau maksiat tersebut, ia hanya menjawab, selagi itu tidak mengganggu warga yang lain atau dalam artian berjalan sendiri-sendiri maka hal itu dianggap tidak meresahkan. Sebuah jawaban yang menurut saya begitu aneh mengingat bahwa saya hidup di negeri mayoritas muslim terbesar di dunia.

Itulah sedikit dari buruknya moral yang telah terjadi di masyarakat kita saat ini, dimana praktek-praktek maksiat tidak lagi dilihat dari segi moral dan agama tetapi lebih ditekankan pada aspek ekonomi dan kesenangan duniawi semata. Maka jangnalah heran jika negeri ini –yang dilambangkan dengan ibu kotanya—selalu saja mendapat bencana dan belum bangkit dari keterpurukan multidimensi.

barlie yanta

30 Agustus 2008

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s